Rabu, 18 Desember 2013

Karena Cermin Tak Pernah Berdusta

    Siapakah yang tidak pernah melihat atau menggunakan cermin? Pastilah semua orang sudah pernah. Setiap pagi, sebelum saya berangkat keluar rumah, saya tak pernah lupa memandang ke cermin untuk melihat bagaimana wajah saya, bagaimana pakaian saya, sudah rapi atau belum. Begitu menemukan ada sesuatu yang tidak bagus, maka saya akan segera merapikannya. Setelah semuanya rapi, barulah saya menyiapkan yang lain dan melangkah keluar......
ku bercermin dlu bukan berarti jelek loooh...ho.ho.ho.ho  nextttt sob^_^
    Cermin tak pernah berdusta. Apa yang terlihat di cermin adalah pantulan sebenar-benarnya dari benda di depannya. Maka tak heran, siapa pun akan menerima koreksi sang cermin, dan serta merta akan memperbaiki penampilan. Itulah cermin yang ada di lemari pakaian, ada di kendaraan, ada di toko-toko dan berbagai tempat lainnya.

     Cermin di atas adalah cermin yang diam, yang tak bisa berkata-kata, yang tak bisa berekspresi, hanya memantulkan bayangan. Namun, dalam kehidupan ini ada cermin yang mampu berjalan, berbicara, serta berekpresi. Cermin itu adalah orang-orang yang kita temui dalam kehidupan kita.

     Terkadang, kita menemukan orang lain yang berwajah ramah, bertingkah laku sopan. Memandangnya, berbicara dengannya, membuat hati senang dan tenang. Namun adakalanya pula kita menemukan orang lain dengan wajah yang kasar, judes, tingkah lakunya pun membuat kita dongkol. Lantas, bisakah kita bercermin kepada mereka?

     Bisakah kita mengembalikan apa yang kita terima dari orang lain tersebut merupakan apa yang pernah kita berikan kepada orang lain pula, hanya saja waktu, tempat, dan orang yang berbeda. Bukankah ada hukum kekekalan energi? Apa yang kita tuai adalah apa yang pernah kita tanam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar